Persiapan Pendakian Untuk Pemula

Baru-baru ini dunia perfilman Indonesia dihebohkan dengan munculnya film yang berbau petualangan di alam terbuka yaitu 5 cm. Film ini bercerita tentang 6 orang sahahat yang jenuh dengan rutinitas yang mereka lakukan selama bersama dan salah satu tokoh dalam film tersebut yaitu Genta memutuskan untuk mengajak kelima orang temannya untuk mendaki sebuah gunung di Pulau Jawa. Gunung yang diklaim menjadi puncaknya para dewa, Gunung Semeru.

Tidak bisa disangkal bahwa gunung ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para pendaki maupun para penggiat olah raga outdoor. Keindahan Gunung Semeru sudah tidak perlu ditanyakan. Kombinasi dari padang rumput, danau, sampai tanah berpasirnya menjadikan Semeru bak tempat yang memiliki strata tertinggi untuk gunung yang ada di Pulau Jawa. Tempat ini juga tak pernah sepi pengunjung, bahkan sudah banyak kegiatan outdoor yang dilakukan di tempat ini, yang terbaru adalah kegiatan yang diadakan oleh sebuah produsen alat-alat kegiatan outdoor yang ikut melibatkan seorang penggiat kegiatan outdoor yang bisa dikatakan sebagai ratunya kegiatan outdoor.

Mungkin faktor ini lah yang menyebabkan sang Penulis novel ini yaitu Donny Dhirgantoro ingin mengangkat Semeru sebagai salah satu setting di novelnya. Meskipun novel ini bercerita tentang impian, tapi novel ini juga mengangkat petualangan di alam terbuka sebagai bumbu ceritanya. Para pembaca novel dan sekarang para penonton film disuguhkan dengan keindahan alam Semeru yang luar biasa, dan mungkin tidak sedikit penonton yang tergoda untuk ikut mencicipi keindahan alam Semeru setelah menonton film ini. Entah itu pendaki kawakan atau pendaki pemula yang belum pernah menginjakkan kaki di gunung apapun.

Film, bagi saya hanyalah sebuah film. Unsur aneh dalam film bukanlah sesuatu hal yang asing bagi saya. Pun dalam film ini terdapat banyak hal aneh yang bisa ditemui jika ingin benar-benar menelaah film ini. Terutama pada bagian pendakian gunung. Hal-hal aneh tersebut bisa saja ditiru oleh para pendaki pemula atau parahnya film tersebut dijadikan panduan pendakian. Saya sangat tidak merekomendasikan sebuah film untuk dijadikan panduan apapun, termasuk dijadikan sebagai panduan di alam bebas. Semua butuh pelatihan dan persiapan yang matang untuk melakukan kegiatan outdoor semacam naik gunung.

Saya sudah mendaki gunung sejak tahun 2004, terhitung sudah 8 tahun saya berteman dengan kegiatan ini. Meskipun saya tidak intens untuk mendaki, paling tidak saya sudah mengecap beberapa gunung yang ada di Pulau Jawa. Gunung Merbabu menjadi gunung pertama yang saya daki. Pengalaman mendaki gunung ini tidak akan terlupakan. Selanjutnya, saya pernah mendaki Gunung Merapi (Jateng), Gunung Gede-Pangrango (Jabar), dan Gunung Ungaran (Jateng). Dari pendakian-pendakian tersebut, saya memiliki pengalaman yang bisa dibagi pada Anda untuk membantu Anda dalam kegiatan outdoor. Saya di sini akan membagi tips untuk mempersiapkan pendakian, mulai dari kesiapan diri sampai kesiapan perlengkapan.

1.       Persiapan Diri

Persiapan yang paling penting dari kegiatan outdoor adalah kesiapan diri. Pastikan keadaan tubuh Anda berada dalam kondisi yang fit. Tidak menderita penyakit apapun, terlebih penyakit yang fatal. Lakukan olah raga secara teratur sebelum melakukan pendakian. Tujuannya jelas, agar Anda tidak ngos-ngosan ketika mendaki karena tubuh sudah terbiasa melakukan kegiatan berat. Kegiatan olah raga yang paling mudah untuk dilakukan adalah jogging. Selain mudah dan murah meriah, jogging bisa melatih stamina sekaligus fisik Anda. Kaki akan terlatih, paru-paru dan jantung juga akan terbiasa untuk menerima beban berat, memacu darah dan memompa oksigen lebih banyak dari biasanya. Bisa juga dengan sit up dan push up untuk menguatkan bagian perut dan lengan.

Untuk Anda yang merokok, saya sarankan untuk tidak merokok selama pendakian. Merokok akan memperberat kerja paru-paru. Oksigen akan berebut tempat dengan zat-zat yang terkandung pada rokok termasuk CO2 untuk masuk ke dalam darah. Padahal hemoglobin lebih mudah mengikat gas semacam CO2 daripada O2. Efeknya jelas, Anda akan merasa lebih cepat ngos-ngosan, perjalanan Anda akan terasa lebih berat. Merokok saja ketika sudah sampai di pos yang ada atau sekalian tidak usah merokok. Jangan lupa untuk tidak membuang puntung rokok sembarang. Jaga kebersihan alam.

Selanjutnya adalah persiapan mental. Kondisi di gunung tidaklah sama seperti kondisi di rumah. Gunung bisa sangat bersahabat bisa pula tiba-tiba menjadi ganas dan tak terkendali. Pelatihan untuk menghadapi kondisi ekstrem seperti badai bisa jadi sangat bermanfaat bagi Anda. Saya sendiri pernah menghadapi bagaimana ganasnya badai di gunung. Pelatihan tentang ilmu medan semacam membaca peta, membaca arah mata angin dari kondisi alam, bisa jadi sangat membantu dalam kondisi (semoga tidak terjadi) tersesat.Pelatihan tentang P3K juga akan sangat berguna untuk kegiatan outdoor ini karena di gunung tidak akan ada rumah sakit bahkan sekelas puskesmas pun tidak akan ada. Beruntunglah jika Anda naik gunung bersama dokter, tapi jika tidak, dokter saat itu adalah diri Anda sendiri.

2.       Persiapan perlengkapan

Perlengkapan juga jadi sangat penting untuk diperhatikan dalam kegiatan ini. Kegiatan outdoor bukanlah kegiatan seperti piknik ke kebun binatang atau ke taman hiburan. Perlu persiapan peralatan yang cukup memadai. Beberapa di antaranya merupakan gear yang khusus untuk digunakan dalam kegiatan outdoor.

a.       Pakaian

Gunakan pakaian yang mudah menyerap keringat namun mudah kering. Bisa memakai kaos berbahan katun. Kegiatan naik gunung pasti akan menguras keringat. Pakaian akan mudah basah oleh keringat dan pastinya pakaian yang basah akan cukup mengganggu kenyamanan. Pakaian yang mudah kering akan lebih membuat Anda nyaman ketika mendaki gunung.

Selain kaos, gunakan juga celana yang berbahan ringan dan mudah kering, semacam polyester atau bahan lain yang mudah kering. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan jeans ketika naik gunung, selain berat, bahan ini susah kering begitu terkena air. Belum lagi bahan jeans sedikit banyak menghambat pergerakan kaki, terlebih untuk kondisi yang memerlukan kaki membuka lebar seperti menapak dengan sedikit unsur memanjat.

Untuk jaket, jaket apapun bisa dipakai, tapi perhatikan juga ketebalan jaket yang dipakai. Sesuaikan dengan tinggi gunung yang akan didaki, makin tinggi gunung, maka suhu udara akan makin rendah, pastinya jaket yang dipakai akan lebih tebal pula. Pakai jaket hanya ketika berhenti. Dalam kondisi berjalan sebisa mungkin lepaskan jaket Anda. Jaket akan membuat keringat makin deras mengucur dari tubuh Anda ketika berjalan. Jaket bisa dipakai ketika berjalan jika memang kondisi di gunung mengharuskan Anda untuk memakainya seperti kondisi angin kencang atau suhu udara memang sangat dingin.

Intinya, pakaian yang dipakai ketika naik gunung adalah pakaian yang nyaman, mudah kering, dan melindungi tubuh. Tapi bukan berarti tidak bisa tampil modis ketika naik gunung, hanya saja jangan kelewat modis. Di gunung tidak akan ada orang yang mengharapkan Anda untuk tampil modis dan tidak akan ada yang memperhatikan detail pakaian Anda. Di gunung hanya akan ada kawanan monyet dan hewan liar lainnya yang mungkin meneriaki Anda ketika Anda lewat.

b.      Sepatu

Kegiatan naik gunung ini sangat disarankan untuk menggunakan sepatu dan jangan menggunakan sandal jepit, high heel, apalagi wedges! Gunakan saja sepatu yang nyaman, yang melindungi telapak kaki dengan baik. Biasanya digunakan sepatu boot khusus untuk kegiatan outdoor. Jangan keliru dengan safety shoes yang digunakan sebagai sepatu keamanan di workshop. Meskipun mirip, safety shoes akan cukup merepotkan karena di ujung bagian depan safety shoes terdapat besi pelindung yang akan mempersulit telapak kaki untuk menekuk. Jika tidak memiliki boot, gunakan saja sepatu kets, atau sneakers. Sandal gunung bisa digunakan, hanya saja untuk kegiatan outdoor yang ringan. Bagi saya, sepatu tetap menjadi pilihan utama dalam berkegiatan outdoor macam naik gunung.

c.       Sleeping Bag

Sleeping bag yang dipakai bisa bervariasi, tergantung selera dan tergantung kebutuhan. Gunakan yang menurut Anda nyaman dipakai dan sekali lagi sesuaikan dengan suhu udara sekitar gunung. Makin tinggi, makin dingin, baiknya makin tebal.

d.      Matras

Matras memiliki fungsi ganda, selain untuk alas ketika tidur, benda ini juga bisa digunakan sebagai pembentuk tas gunung (carrier). Selain untuk melindungi barang yang ada di dalam tas, juga bisa membuat carrier Anda terlihat kokoh. Jadi tidak perlu menggulung matras dan menggantungkannya di luar tas. Jangan lupa menyesuaikan ukuran matras dengan ukuran tas supaya pas ketika dimasukkan ke dalam tas.

e.       Cooking tool

Cooking tool ini meliputi kompor, bahan bakar (paraffin, minyak tanah, atau gas), korek, rantang, sendok, garpu, pisau, gelas, piring. Lagi-lagi peralatan ini disesuaikan dengan medan yang akan ditempuh. Makin jauh perjalanan yang ditempuh, persediaan bahan bakar juga perlu untuk ditambah. Barang-barang tersebut juga optional, piring bisa diganti dengan kertas minyak, kompor dan bahan bakar bisa menggunakan tungku batu dan kayu bakar dengan menggunakan bahan yang disediakan alam. Namun, pesan saya, jangan lupa mematikan api dan jangan meninggalkan sampah apapun di gunung.

f.        Logistic

Persiapkan bahan makanan dengan baik. Rencanakan menu makan ketika Anda melakukan pendakian. Ini penting. Pendakian itu butuh asupan kalori yang besar, terlebih untuk pendakian gunung yang memerlukan waktu berhari-hari macam Semeru. Kurang asupan gizi ketika pendakian akan sangat mengganggu. Mendaki ketika kondisi lapar itu tidak nyaman. Saya sendiri pernah merasakan ketika mendaki Gunung Gede-Pangrango. Lemas, butuh banyak berhenti.

Persiapkan juga air minum yang cukup. Lebih baik menyimpan air berlebih daripada kurang. Saya biasanya menyimpan sekitar 2-3 liter air di dalam tas. Berat memang, tapi untuk keamanan pribadi, saya rasa ini pantas.

g.       Aksesoris

Yang saya maksud aksesoris di sini adalah perlengkapan tambahan selama pendakian. Sarung tangan, penutup kepala (helm, topi, kupluk), sunglassesmaskerheadlamp/senter, kompas, peta, tongkat, pelindung kaki, parang, pisau lipat, raincoatdry bag (bisa diganti dengan kantong kresek). Barang-barang ini optional, yang saya sangat sarankan untuk dibawa adalah senter dan pisau. Jangan lupa membawa baterai cadangan.

h.      Medical kit

Bawalah medical kit standar selama dalam pendakian. Plester, kain kasa, kapas, obat luka, pembersih luka (bisa alkohol atau revanol), obat flu (selain untuk obat flu, bisa digunakan sebagai obat tidur). Obat-obatan yang bersifat khusus, bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh. Jika memang diperlukan, bisa juga membawa oxygen cans untuk memperlancar pernapasan.

i.         Perlengkapan pribadi

Perlengkapan ini meliputi peralatan mandi, pakaian ganti, pakaian dalam, mungkin juga kosmetik (di beberapa gunung penggunaan kosmetik dilarang), lotion anti serangga, tissue (basah/kering). Bawa juga sarung, piranti yang satu ini sangatlah bermanfaat, bisa jadi alas, jadi selimut, bahkan jadi pembungkus pakaian.  Bawalah sesuai kebutuhan, jangan terlalu sedikit atau terlalu berlebihan. Ingat ini pendakian, bukan piknik ke taman ria.

j.        Tenda

Tenda biasanya digunakan secara berkelompok, tidak perlu setiap orang membawa tenda. Kapasitas tenda (doom) bervariasi, biasanya mulai dari 4 sampai 10 orang, tergantung dari ukuran. Untuk tenda perorangan, bisa menggunakan bivak. Bivak bisa saja memang tenda ukuran perorangan atau tenda yang dibuat dari mantel ponco yang dibentuk menjadi bivak. Terkadang tenda tidak diperlukan, bisa saja menggunakan fly sheet/terpal untuk berteduh. Tergantung kondisi lapangan.

k.       Tas gunung (Carrier)

Tas gunung (carrier) merupakan unsur penting dalam kegiatan pendakian, barang-barang yang saya sebutkan di atas mulai dari item c sampai item j, semuanya bisa dimasukan ke dalam carrier. Maka dari itu pastikan carrier ini muat untuk semua barang-barang Anda. Jika terpaksa tidak muat, gunakan tas tambahan. Untuk pendakian jarak jauh (lebih dari 3 hari), bisa memakai carrier dengan ukuran 80 liter – 120 liter. Jika memang belum cukup, gunakan saja jasa porter untuk membawa tas tambahan Anda. Saya sendiri biasanya menggunakan ukuran carrier 45 – 60 liter karena memang belum pernah mendaki gunung yang membutuhkan waktu panjang.

Item-item yang saya sebutkan adalah item-item standar untuk pendakian, memang jika dijelaskan akan sangat panjang. Tapi coba dilakukan, saya biasanya bisa memasukkan semua barang tersebut. pengaturan posisi barang dalam carrier pun penting. Letakkan barang yang memiliki berat paling ringan di bagian bawah, biasanya sleeping bag, kemudian baru barang lainnya. Saya biasa meletakkan barang dengan tingkat urgensi tinggi di bagian atas tas. Mantel, senter, dan obat-obatan biasa saya tempatkan di bagian atas, terkadang di bagian kantong luar tas. Kemudian tenda kadang saya letakkan di luar tas (dikaitkan/diikatkan pada bagian tas) kadang juga saya menjinjing tenda tersebut.

Buatlah juga rencana perjalanan Anda, ini membantu Anda untuk memandu Anda selama perjalanan. Anda akan tahu harus sejauh mana berjalan, kapan waktunya istirahat, kapan harus kembali berjalanan. Ada baiknya jika Anda adalah pendaki pemula, ajaklah pendaki senior untuk menemani selama perjalanan, paling tidak bisa sebagai guide selama perjalanan atau manfaatkan jasa porter dan guide lokal untuk memandu selama pendakian.

Pesan saya, sama seperti para pendaki lain. Junjung tinggi 3 hal ini:

1.       Jangan kau tinggalkan sesuatu kecuali jejak.
2.       Jangan kau bunuh sesuatu kecuali waktu.
3.       Jangan kau ambil sesuatu kecuali gambar.

Alangkah indahnya jika kita bisa ikut melestarikan alam dengan usaha kecil kita. Tidak membuang sampah di gunung, bawa pulang kembali sampahmu. Tidak membunuh hewan endemik terlebih hewan langka dan tidak mengambil tumbuhan langka macam edelweiss. Edelweiss bukanlah simbol kehebatan seorang pendaki, justru yang mengambilnya adalah pendaki kelas tikus, yang umpet-umpetan dengan penjaga hutan, sekaligus umpet-umpetan dengan teman sesama pendaki. Persetan lah dengan pendaki yang sok pamer dengan edelweiss yang bisa dia ambil dari gunung.

Tidak ada salahnya mendaki gunung, sekalipun untuk pemula. Semua pendaki senior awalnya juga pemula, semuanya belajar untuk mencapai tahap ahli dalam pendakian. Pun saya, saya juga pendaki yang masih pemula, masih awam. Mari belajar bersama, kawan.

12 thoughts on “Persiapan Pendakian Untuk Pemula

  1. catatan dan tips yg bagus, mas. kapan-kapan mendaki bareng yuq hehehe.. salam rimba!

  2. Saya juga berencana untuk mendaki gunung, antusias sih iya…. tapi kecemasan juga ada…..
    Takut nggak kuat nyampek puncak…. padahal kata orang-orang…. gunung penanggungan aja kok gampang…..
    Tapi namanya keyakinan harus ada dalam diriku…..
    Aku berusaha untuk menguatkan diriku….. hahahahhaa…
    Tips ini mudah-mudahan dapat membantu saya…..

    • Saya selama mendaki juga belum pernah sampai puncak kok. Setiap kali mendaki saya pasti tinggal di pos terakhir menuju puncak. Bukan tanpa alasan, saya harus menjaga teman-teman lain yang kelelahan saat mendaki karena saya cukup menguasai ilmu P3K.
      Oiya, satu hal lagi. Jangan jadikan puncak sebagai tujuan utama. Tetapi, tujuan utama pergi mendaki adalah untuk pulang kembali ke rumah dengan selamat. Bagi saya, dimana saya berhenti mendaki, disitulah puncaknya.
      Semangat untuk pendakiannya, tetap berhati-hati saat mendaki.🙂

  3. Wah tipsnya keren mas,,, insyaAllah bulan Mei besok saya mau nanjak mas ke Semeru. Tapi lagi persiapan mental, fisik dan peralatan… Maklumlah newbieee sayanyah… Hehehehe… Pertama kali nanjak gunung saya ke Bromo itu aja udah bikin saya ngos-ngos an banget… Tapi memang saya tidak olahraga sebelumnya.. Karena menurut informasi dari pihak travel tripnya bukan hiking.. Walhasil persiapan saya ya biasa aja, kayak mau jalan-jalan ke Puncak Bogor terus ke Kebon Teh Gunung Masnya.. Hehehe,, Nah setelah dari Bromo saya benar-benar merasakan sensasi naik gunung, walaupun kata guidenya ini masih belum seberapa… Waaah tapi udah bikin saya mau pingsan dan membuat ambiyen saya kumat dan kata dokter dilarang naik gunung selama setahun…😥 Tapi mudah-mudahan masih ada waktu untuk mempersiapkan rencana mendaki bulan Mei nanti.. Aamiiin…

    • Jika memang dokter melarang kegiatan outdoor, sebaiknya dipatuhi karena dokter pasti lebih paham tentang penyakit yang kamu alami. Tapi, jika memang sudah sembuh, silakan berkegiatan lagi.

      Oiya, mengingat gunung yg akan didaki adalah Semeru, sebaiknya persiapan untuk mendaki harus lebih matang. Track Semeru cukup panjang dan berat. Lagi, pesan saya, jangan tinggalkan sampah di gunung karena baru saja dibersihkan. Kemudian jangan nyemplung di Ranu Kumbolo ya, ga usah tiru-tiru 5 cm karena itu sumber air utama para pendaki.

      Semoga sukses pandakiannya.🙂

  4. tubagus ali ibrahim

    Kalo mendaki gunung merapi bagusnya bawa carrier ukuran berapa ya bang?, trus kalo saya mendaki tanpa guide apa berbahaya bang?

  5. mas kalau bagi pemula gunung merbabu aman nggak ?

    • Sebenernya ga pernah ada gunung yang benar-benar aman untuk didaki karena alam bisa saja berubah kapan saja tanpa bisa diprediksi. Yang terpenting adalah lengkapi alat-alat yang mendukung keselamatan mendaki. Jangan sembrono dan sombong saat mendaki, Yang tidak kalah penting adalah bawa turun lagi sampah yang dihasilkan saat mendaki.

      Selamat mendaki.🙂

  6. mas kalo saya pemula saya ingin naik gunung gede . tapi saya anak” pemula semua enggak ada yg pengalaman . pendapat mas gimana

    • Baiknya memang ada orang yang sudah berpengalaman di gunung tersebut untuk mendampingi. Tetapi, sekalipun pada akhirnya akan mendaki dan semuanya adalah pemula, bekali diri dengan pengetahuan akan gunung yang akan didaki (dalam hal ini Gunung Gede). Bisa dengan membaca catper pendaki lain, baca juga tentang standar keamanan diri untuk mendaki.

  7. Rencana sih oktober ini mau naik ke semeru mas, tapi status pendakian katanya masih ditutup karna hutannya sempat terbakar beberapa hari yang lalu. Nah kebetulan di grup kami saya termasuk pemula dalam hal pendakian. Dulu pernah ke Gunung Ijen dan alhamdulillah sampai di kawahnya. Namun kata teman-teman Gunung Arjuno termasuk gunung yg pendakiannya cukup sulit terutama untuk pemula. Oiya menurut masnya peralatan yg sekiranya sering dibawa namun paling jarang digunakan saat pendakian itu apa saja? Mungkin bisa mengurangi berat bawaan juga. Makasih mas responnya, anw catper mas sangat membuka wawasan saya tentang pendakian. Doakan kami jadi mendaki Gn. Arjuno mas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s