Malang Graphic Journal

Malang, kota ini sudah bagaikan halaman rumah bagi saya. Terlalu sering mengunjungi kota kecil yang sejuk ini. Dulu saya tinggal di sebuah desa kecil bernama Beji yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Malang. Nyaris setiap bulan saya mengunjungi tempat ini. Namun, waktu berlalu, kini saya terpisah ratusan kilometer dengan kota ini. Saya pindah dari Pasuruan menuju Magelang. Mengikuti kepindahan orang tua saya.

Jarak bagi saya bukanlah pemisah, tapi jarak adalah sebuah pemupuk rasa rindu. Penguat rasa untuk menginjakkan kaki kembali. Sempat ketika masih menginjak semester awal kuliah, saya mampir ke Malang. Terhitung dua kali saya mampir ke Malang dan perjalanan kemarin adalah perjalanan ketiga saya ke Malang.

Malang selalu punya cerita menarik bagi saya. Malang selalu menghadirkan cerita unik ketika mengunjunginya. Kali ini pun demikian. Perjalanan yang saya mulai dengan beban di kepala sudah menumpuk, berakhir dengan kepala tegak, menatap ke depan dengan tegas. Perjalanan di Malang kali ini saya habiskan untuk menjelajahi bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, yang juga menjadi ikon Kota Malang.

Masjid Jami’, Gereja Kayutangan, Gereja GPIB Immanuel dan Tugu Alun-Alun Bundar Malang menjadi tempat yang saya kunjungi. Tidak lupa juga mengunjungi sebuah pasar yang hanya buka di hari Minggu, Pasar Pagi Malang. Tempat-tempat ini memiliki sisi unik yang patut untuk dikunjungi. Weekend hunter edisi perdana kali ini, Malang. Selamat membaca.

Tabik.

Advertisements

Low Cost Traveling Journal

Alhamdulillah, akhirnya jurnal perjalanan 6 hari ini rampung juga. Perlu kerja keras untuk merampungkan jurnal ini. Curi-curi waktu luang di antara ketatnya penulisan skripsi. Alhamdulillah skripsinya bisa selesai juga, tinggal menunggu jadwal sidang pendadaran.

Jurnal ini merupakan rangkuman perjalanan selama 6 hari di Jawa Barat, mulai dari Kota Bandung, kemudian ke Cianjur, dan di akhiri di Sukabumi. Di Bandung kami menikmati Kota Bandung dengan segala hiruk pikuknya. Angkot yang kejam, jalanan yang macet, dan mojang-mojang Priangan yang aduhai.

Perjalanan berikutnya adalah menuju sebuah situs megalitikum di Cianjur. Kami bergerak dengan menggunakan kereta api bertiket Rp 1.500 per orang yang kemudian kami lanjutkan dengan menyewa angkot lokal. Tempat ini begitu luar biasa, hamparan batu yang berserakan menjadi saksi perubahan dunia selama ribuan tahun.

Di Sukabumi kami menjelajahi pantai-pantai di sepanjang Palabuhan Ratu yang kemudian di hari berikutnya kami menuju Situ Gunung yang berada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Akhir perjalanan kami lalui dengan trekking dari Situ Gunung menuju Curug Sawer. Kami melewati hutan yang masih sangat terjaga di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Perjalanan ini saya lalui bersama teman-teman yang luar biasa, fotografer handal, penghibur ulung, penebar tawa profesional. Mereka adalah Romdhona Prianto (@shiromdhona), Kurniawan Adi Nugroho (@adi__nugroho), Suprapti (@andspero), dan Tambah Hari Prasetyo (@tambahprasetyo).

Jurnal bisa di unduh secara gratis, baca gratis, cetak sendiri kalo mau. hehehe.. silakan menikmati!

Persiapan Pendakian Untuk Pemula

Baru-baru ini dunia perfilman Indonesia dihebohkan dengan munculnya film yang berbau petualangan di alam terbuka yaitu 5 cm. Film ini bercerita tentang 6 orang sahahat yang jenuh dengan rutinitas yang mereka lakukan selama bersama dan salah satu tokoh dalam film tersebut yaitu Genta memutuskan untuk mengajak kelima orang temannya untuk mendaki sebuah gunung di Pulau Jawa. Gunung yang diklaim menjadi puncaknya para dewa, Gunung Semeru.

Tidak bisa disangkal bahwa gunung ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para pendaki maupun para penggiat olah raga outdoor. Keindahan Gunung Semeru sudah tidak perlu ditanyakan. Kombinasi dari padang rumput, danau, sampai tanah berpasirnya menjadikan Semeru bak tempat yang memiliki strata tertinggi untuk gunung yang ada di Pulau Jawa. Tempat ini juga tak pernah sepi pengunjung, bahkan sudah banyak kegiatan outdoor yang dilakukan di tempat ini, yang terbaru adalah kegiatan yang diadakan oleh sebuah produsen alat-alat kegiatan outdoor yang ikut melibatkan seorang penggiat kegiatan outdoor yang bisa dikatakan sebagai ratunya kegiatan outdoor.

Continue Reading

Mengabdi untuk Indonesia dengan Caraku Sendiri

“Halo Njar, apa kabar? Gimana ikutan daftar Indonesia Mengajar?”

Sering sekali saya mendapati pertanyaan itu ditujukan pada saya. Pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak ingin saya dengar lagi. Saya sudah jauh-jauh hari mengurungkan niat untuk menjadi salah satu Pengajar Muda. Bukan karena saya tidak terpanggil, bukan juga karena putus asa. Tapi, saat ini saya sudah menetapkan hati untuk membangun Indonesia dengan cara saya sendiri.

Continue Reading

Melihat Jogja Dari Jendela Sebuah Buku

Jojga, 29 Maret 2012.
Saya bangun cukup pagi di hari ini karena memang sebelumnya sudah buat janji untuk melakukan survei lokasi untuk next project 1 Buku untuk Indonesia. Mempersiapkan segalanya yang dibutuhkan, padahal mah cuma nyiapin badan, baju, tas dan alat tulis. Rencana awalnya survei dimulai jam 9 pagi. Saya yang tidak mendengar suara handphone saya berdering jadi merasa bingung kenapa saya tidak kunjung dihubungi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengontak Chendy, ketua pelaksana program ini. “Wes tak sms pret”, katanya demikian. Benar, saya cek inbox ternyata sudah ada 2 sms masuk dari Chendy. “Waduh, Sorry, hapene ketindihan bantal.”, balas saya padanya.

Langsung mempersiapkan kendaraan saya dan menuju lokasi pertama dimana semua tim sudah berkumpul. Saya yang memang tidak tahu dimana letaknya sempat bingung mencari lokasinya. Berputar sampai 2 kali di tempat yang sama tidak juga membuat saya menemukan TK yang menjadi target pertama itu. Akhirnya saya mencoba putar balik jalan Kyai Mojo Jogja dan menengok kanan kiri bak orang nyasar. Ketemu juga, motor milik Chendy ada di depan sebuah bangunan yang sedang direnovasi. Dalam benak saya yang terlintas adalah “Ini beneran TK? kok ga ada apa-apanya”. Memang tak ada papan nama TK, tak ada tempat bermain, yang ada hanya bangunan tua bertuliskan Balai Rukun Kampung Pingit. Usut punya usut, TK ini hanya nebeng di gedung serba guna kampung Pingit.

TK Kyai Mojo Pingit yang menumpang pada gedung serba guna kampung

TK Kyai Mojo Pingit yang menumpang pada gedung serba guna kampung

Continue Reading

Kubiscrafter

Magelang, 30 Oktober 2011

hallo….
haaiii….
mafia kubiiiissss…
kuyakin bisaaa….

Kata-kata itu yang memulai kegiatan pagi ini di Mafia Kubis. Kegiatan pagi ini adalah bermain dengan papercraft. Itu permainan #semacam menggunting, melipat, dan menempel kertas untuk dijadikan sebuah bentuk. Kali ini kita membentuk hewan-hewan yang lucu-lucu. 😀

Sebelumnya kegiatan papercraft ini diragukan bisa terlaksana karena persiapannya yang sangat mendadak. H-1 baru disetujui untuk dijadikan materi ajar di mafia kubis. tetapi, overall (ciyee overall) kegiatan ini bisa dikatakan lancar dengan beberapa koreksi tentunya.

Continue Reading

See You After School : A Workshop of Social Movement and Traveling

Magelang (14/04/2012) – Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan, dan menjadi seorang petualang sekaligus aktivis sosial itu menikmati hidup. Setiap orang pastinya punya cara masing-masing untuk menikmati hidupnya. Berpetualang dan berbagi, dua hal itulah yang diangkat pada acara workshop tentang travelling dan social movement dengan judul workshop, “See You after School: Share and Fun” yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Magelang. Farchan Noor Rachman, Romdhona Prianto, Suprapti, dan Anjar Nurhadi, empat orang anak muda yang mengisi acara tersebut merupakan alumni SMA Negeri 1 Magelang. Tergabung dalam sebuah wadah yang diberi nama Forum Alumni Berbagi yaitu sebuah forum yang memberikan tempat bagi para alumni SMA Negeri 1 Magelang untuk saling menumpahkan ide, pikiran, gagasan yang menarik untuk dibagikan dan diceritakan pada adik-adik almamater SMA Negeri 1 Magelang.

Continue Reading