Teriakan Idealisme: Apakah Ini Sudah Benar?

foto dipinjam dari m.welovehonda.com

foto dipinjam dari m.welovehonda.com

Sekarang saya mengenakan pakaian putih-putih, tapi saya bukan jadi seorang perawat, bukan juga ranger putih. Namun, pakaian ini adalah seragam wajib dari perusahaan dimana saya bekerja saat ini. Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan manufaktur kendaraan bermotor terbesar di Indonesia yang berlogo sayap terbang. Sebut saja Honda. Ya memang ini adalah perusahaan Honda.

Saya mulai bekerja di tempat ini sejak bulan April 2013, belum lama memang, baru berjalan 2,5 bulan saja. Background pendidikan saya yang lulusan teknik mesin membawa saya menjadi salah satu staff untuk engineering division. Divisi terbesar yang ada di perusahaan ini, bisa dibilang divisi ini adalah nyawa dari perusahaan ini. Divisi ini bertanggung jawab atas proses manufaktur kendaraan bermotor secara keseluruhan. Mulai dari raw material sampai menjadi sebuah kendaraan motor yang utuh. Sebuah proses panjang yang sangat membutuhkan ketelitian agar kualitas produk tetap terjaga.

Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, ada rasa ingin tahu yang sangat besar pada proses manufaktur sepeda motor. Layaknya seorang anak kecil yang penasaran dengan sebuah hal yang baru, saya sangat bersemangat untuk belajar di tempat ini.

Jika kalian pernah menonton acara Mega Factory dari National Geographic atau Bagaimana Sesuatu Bekerja dari Kompas TV, apa yang saya lihat dan pelajari di tempat ini mirip sekali seperti menonton tayangan dari channel tersebut. Saya melihat bagaimana sebuah kendaraan diproses dari bahan mentah, mengalami proses pengecoran, machining, welding, painting, sampai tahap akhir yaitu perakitan atau assembling. Proses panjang tersebut dilakukan secara cepat dan bukan dalam jumlah yang sedikit melainkan dalam jumlah yang luar biasa banyak. Bayangkan saja, sebuah kendaraan bisa diselesaikan dalam 24 detik dan dilakukan terus menerus dalam 16 – 24 jam tergantung plant. Sebagai contoh, di plant 1 Sunter, seharinya dapat memproduksi sekitar 2000 sepeda motor. Itu baru 1 plant, Honda memiliki 3 plant dan masih ada 1 plant lagi yang terintegrasi dengan plant 3. Bayangkan sendiri seberapa banyak kendaraan yang bisa diproduksi oleh perusahaan ini. Dalam tahun 2012 saja Honda berhasil menjual 4.092.693 unit sepeda motor. Jumlah yang luar biasa banyak dan yang pasti profit yang dihasilkan pun sangat banyak.

Rasa ingin tahu saya terus berlanjut di perusahaan ini, maklum saya adalah alumni dari teknik mesin jadi perihal otomotif menjadi salah satu big interest saya selama ini. Saya terus belajar tentang teknologi yang ada di perusahaan ini, mulai dari teknologi tentang mesin-mesin produksi yang dipakai sampai dengan teknologi yang diusung oleh sepeda motor yang diproduksi oleh perusahaan ini. Lagi-lagi saya merasa kagum dengan teknologi yang ada di perusahaan ini. Rasanya seperti sedang bermain di taman bermain dimana semua permainan yang disenangi terhampar di depan mata. Namun, sampai satu titik saya berpikir jauh lebih dalam.

Saat itu saya sedang berada di seksi welding (pengelasan), tugas saya saat itu adalah mempelajari tentang proses welding itu sendiri. Intinya memang hanya menyambung dua buat part logam dengan bantuan alat las. Saya banyak mengobrol dengan staff-staff senior yang ada di seksi tersebut. Sampai satu titik, saya hanya berada sendiri di tempat tersebut.

Ruangan seksi ini berada di lantai 2 sehingga dari tempat ini saya bisa melihat proses welding dengan jelas. Para operator bekerja dengan sangat cepat, dibantu dengan robot, pekerjaan mereka makin cepat terselesaikan. Saya menghitung sendiri seberapa lama sebuah rangka sepeda motor bisa diselesaikan. Stop watch saya menunjukkan 16 detik untuk 1 rangka. Luar biasa cepat. Makin lama saya melihat proses itu, yang saya rasakan bukanlah sebuah rasa kagum lagi, melainkan sebuah rasa yang miris.

Memang, mereka bekerja dengan luar biasa, dengan peralatan yang luar biasa juga. Part demi part selesai dengan waktu yang singkat. Namun, hati kecil saya mulai teriak.

“Hey, ini semua nantinya akan jadi sepeda motor kan? Nantinya pasti akan membutuhkan BBM kan? Nantinya akan menghasilkan emisi gas buang kan? Nantinya juga akan memenuhi jalanan kan?”

Pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur di kepala. Saya mulai berpikir tentang efek dari semua proses ini. Kemacetan, konsumsi bahan bakar secara massive, belum lagi gas rumah kaca yang akan terus dilepaskan ke atmosfer. Oh God, 4 juta kendaraan per tahun ini akan membawa masalah yang sangat besar bagi lingkungan. Di titik inilah saya mulai ragu dengan apa yang saya kerjakan selama ini.

Memang perusahaan ini memiliki program CSR. Perusahaan ini melakukan penghijauan, riset tentang teknologi untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang pun terus dilakukan. Perusahaan lainnya dari grup Astra juga melakukan perbaikan infrasturktur. Namun, apa semua itu cukup? Seberapa besar efek positif yang ditimbulkan dari program-program tersebut?

Pohon butuh waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan benar-benar sanggup menyerap CO2 itupun dengan syarat semua pohon yang ditanam tidak ada yang mati dan pohon-pohon di tempat lain tidak ada yang ditebang artinya reboisasi memang ditujukan untuk menambah populasi pohon. Tentang infrasturktur pun sama. Astra memang membangun jalan sebagai bentuk responsibility terhadap industri otomotif yang dilakukan Astra. Namun, sampai saat ini baru merambah jalan tol, bukan jalan-jalan perkotaan yang notabene akan dilalui oleh sepeda motor yang jumlahnya jutaan ini. Efeknya jelas langsung terasa, jalanan makin padat dengan kendaraan bermotor. Di Jakarta sendiri, setiap kali saya melewati persimpangan, selalu terlihat sepeda motor yang berbaris tak karuan di belakang lampu lalu lintas dan begitu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, puluhan, mungkin ratusan sepeda motor berhamburan. Persis seperti gerombolan biri-biri yang kandangnya baru saja dibuka.

Terkait dengan riset untuk mengurangi emisi gas buang, saya akui Honda cukup bertanggung jawab untuk hal ini. Penghargaan sebagai sepeda motor dengan emisi gas buang terendah pun pernah diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Sepeda motor dengan merk dagang Supra X 125 Helm-in PGM-FI menjadi yang paling ramah lingkungan. Emisi yang dihasilkan cukup rendah dengan nilai parameter  CO sebesar 0,103 gram/km, HC sebesar 0.035 gram/km, dan NOx 0.032 gram/km. Namun, perlu diingat, itu nilai yang ditunjukkan untuk satu sepeda motor. Bagaimana jika 4 juta sepeda motor berjalan bersamaan?  Kadar CO yang dihasilkan bisa mencapai 412.000 gr/km, HC sebesar 140.000 gr/km dan NOx sebesar 128.000 gr/km. Bisa coba dibayangkan?

Yang terakhir adalah masalah yang sedang hangat dibicarakan saat ini yaitu terkait dengan BBM. Sampai saat ini Honda belum menciptakan sebuah kendaraan yang tidak mengonsumsi BBM, artinya 4 juta kendaraan yang tahun lalu diproduksi tetap butuh minum agar tetap berjalan. Lagi-lagi mari menghitung, 4 juta kendaraan, anggap saja satu sepeda motor akan menghabiskan 1 liter bensin untuk 3 hari. Saya mencoba untuk mengambil nilai paling rendah dari penggunaan bahan bakar per kendaraannya. Maka bahan bakar yang dipakai pertahunnya adalah 365/3 liter = 122 liter tiap tahunnya dan cobalah kalikan dengan 4 juta. 488 juta liter per tahun! Angka yang mengerikan. Perhitungan ini belum termasuk defiasi yang mungkin terjadi, bisa saja ada pengendara yang menghabiskan 1-2 liter bahan bakar per hari atau mungkin lebih.

Semenjak hari itu, saya semakin sering merenungi apa yang saya lakukan setelah kembali dari kantor. Apakah pekerjaan ini sudah sesuai dengan apa yang saya impikan selama ini. Menjadi seorang engineer yang bertanggung jawab terhadap lingkungan memang sulit. Terlebih di sebuah perusahaan yang terus berkompetisi dalam dunia industri global yang terus mengembangkan usaha sampai ke titik maksimal yang bisa dicapai. Sampai sekarang saya masih merasakan ketidaktenangan dalam bekerja, selalu saja ada rasa khawatir yang saya rasakan. Kekhawatiran saya lebih ke arah bagaimana nantinya dunia ini mampu terus bertahan di tengah gempuran industri yang bisa dikatakan terus membebani bumi dan saya adalah salah satu bagian dari industri tersebut.

Saya tidak mungkin sanggup untuk menghentikan industrialisasi dunia, siapa saya? Saya hanya seorang fresh graduate student yang masih juga fresh di dunia industri ini. Yang mungkin terjadi adalah saya yang dihentikan oleh industri ini. Saya mungkin terlalu naïf jika ingin berbicara tentang industri yang berjalan berdampingan dengan lingkungan. Namun, itu bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Saat ini saya lebih ingin mengedukasi orang untuk tetap peduli dengan lingkungan dan tetap berinovasi untuk menciptakan teknologi yang makin ramah dengan lingkungan. Terdengar terlalu idealis memang. Namun, jika memang kesempatan itu ada, saya akan berhenti dari pekerjaan ini. Pekerjaan yang cukup membuat saya gusar setiap hari. Ya, semoga suatu hari kesempatan itu datang pada saya.

Tabik.

About these ads

9 thoughts on “Teriakan Idealisme: Apakah Ini Sudah Benar?

  1. banyak mimpi teman teman saya menjadi seorang engineer yang bisa bekerja diperusahaan ternama,namun mimpi itu mempunyai resiko yang sangat besar dikemudian hari bagi kita bersama

  2. Baru tahu kalo dirimu lulusan teknik mesin…kupikir anak sastra jee :-D
    Kebutuhan manusiawi susah dilepas kalo belum siap mental, cuma bisa berharap banyak generasi muda Indonesia yang bisa mengembangkan teknologi kendaraan menggunakan tenaga surya atau bahkan tenaga air biar BBM nggak jadi “musuh dalam selimut” alam lagi… Cheers…

    • hehe, ndak ada tampang engineer yak? :D
      ga mungkin sepenuhnya dilepas, minyak bumi udah jadi bagian dari perjalanan hidup manusia, perkaranya adalah bagaimana menggunakan minyak bumi secara tepat guna. tidak seperti sekarang. waton. hehe..
      perkara riset itu emang penting, tapi kembali lagi bahwa support untuk riset di negeri ini masih rendah. tapi semoga bukan akhir dari perkembangan teknologi di Indonesia. :)

  3. Coba ente telusuri lebih dalam, apakh benar….. 4 juta motor per tahun itu kan jelas harus terjual, oleh karena itu entah bgaimana caranya berusaha untuk mencegh pembangunan transportasi umum secara masal… bayangkan juga smua warga terangkut dengan transportasi umum,,, pasti akan menghancurkan industri tersebut

    • sebenarnya bukan “harus terjual” melainkan sudah terjual, itu data tahun 2012 dari AISI. mengenai perihal angkutan umum, jelas tidak mungkin jika semua orang bisa terangkut dengan kendaraan umum dan ini juga bukan mengenai penghancuran sebuah industri, yang saya bayangkan adalah bagaimana industri ini bisa berdampingan dengan alam. kemudian, terkait konspirasi akan pencegahan pertumbuhan transportasi masal, itu di luar kuasa saya. :)

  4. haha idea-list,,idealist,,hehe haha tumbuhlah sudah memang ya..haha aku pun,di pendidikan yo padha ae..masih selalu ada perang dalam diri..padahal di tempatku masih jauh mending ada hal-hal yg mendukung idealismeku..tapi masih ada aja bahan pertentangan,ya tetep sedikit banyak ngikutin sistem di sekolah umum sih..Hoho kapan punya sekolah sendiri ya..
    Dan sepakat soal dukungan yg minim utk riset di negeri ini,,ga cuma teknologi,riset yg terkait biodiversity jg gitu..

  5. lagi pisan iki aku moco blog mu mas brow,, kaget pas enek postingan berlabel sayap,,,
    smoga kesempatan itu ada mas, aku yo wegah nek kon ikut berperan dalam menghancurkan dunia pelan-pelan hehehehehe :D

  6. Idealisme yg gue usung sejak gue lulus stm yaitu bekerja di bidang apapun asal jangan ‘otomotif’ yg kadang bikin gue geram krn susah banget nyari kerja di sektor selain otomotif.
    Karena gue percaya semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan, gue gak mau ngeluh tentang kemacetan yg sebenernya gue juga ambil peran dalam menciptakan kemacetan itu sendiri.
    Sampai akhirnya gue berpikir bahwa Tuhan benar tentang manusia yang membawa kehancuran di bumi. Kita pasti akan menghacurkan dunia dengan cara membuat dunia ini menjadi lebih baik. Seperti hal nya AC. Gue percaya seandainya AC tidak pernah tercipta, maka tidak perlu ada monopoli suhu temperatur udara di bumi ini.
    George Carlin pernah bilang tentang slogan arogan yg pernah dibuat sepanjang sejarah manusia yaitu “Save the Planet”. Seterancam apakah planet ini sampai harus kita selamatkan? Planet bumi kan sudah ada sejak milyaran tahun yg lalu dan kita baru hadir sekitar 20 abad dan mengacaukan semuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s